
Minum kopi bisa dilakukan di rumah. Seduh sendiri, menikmati sendiri, seru-seruan sendiri. Namun sadarkan bahwa kita harus tetap ke kedai kopi demi beberapa hal yang tak tergantikan?
Banyak artikel yang mengatakan bahwa milenial tak bisa menyimpan uang dikarenakan terlalu sering ke kedai kopi. Kedai kopi dinilai sebagai ladang pemborosan tempat orang-orang menghabiskan uang. Padahal tak selamanya begitu. Manusia punya kontrol penuh terhadap uang mereka sendiri. Tak ada yang memaksakan minum kopi di kedai kopi sehari tiga kali, bukan?
Stigma negatif ini seharusnya tak terjadi mengingat kehadiran kedai kopi membantu begitu banyak lini. Dengan hadirnya kita ke kedai kopi hal itu membantu laju perekonomian berputar pasti. Tak hanya untuk owner kedai kopi tetapi juga rantai perjalanan kopi itu sendiri.
Bayangkan ada petani di hulu yang kopinya dibeli. Ada green buyer yang mengurasi. Ada penyangrai beserta rumah sangrainya yang turut bergerak. Ada business owner beserta para barista yang juga terbantu perekonomiannya. Jika kita berhenti ke kedai kopi, siapa yang akan menggerakkan laju perekonomian? Jika kita tak ke kedai kopi lagi, di mana keseruan dan tukar pikiran yang menyembulkan ide-ide besar lahir?
Biarlah kedai kopi menjadi ruang kreatif dan ranah santai untuk banyak orang. Tapi harus diingat, hidup pun tak hanya sekadar berjalan untuk membayar kopi, kopi dan kopi. Banyak hal yang dipikirkan, banyak hal yang perlu dibayar. Oleh karena itu, diperlukan keseimbangan. Tetaplah ke kedai kopi, jangan biarkan kedai-kedai sepi. Jangan biarkan kota kita kehilangan satu ruang tempat nikmat dan candu lahir tumpang tindih. Semoga sebentar lagi kita sudah bisa mampir ke kedai-kedai kopi dengan santai ya..
_______________
Reference: Majalah Otten ☕




